Belajar Langsung di Alam! Siswa SMAN 3 Pandeglang Ikuti Observasi Lingkungan di Taman Nasional Ujung Kulon
- Selasa, 19 Mei 2026
- Dokumentasi
- Administrator
- 0 komentar
Hari Pertama — Senin, 18 Mei 2026
Suasana berbeda terlihat di SMAN 3 Pandeglang pada Senin pagi, 18 Mei 2026. Sejak pukul 07.00 WIB, para siswa kelas X A, X B, X C, dan X D sudah mulai berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti kegiatan observasi pengenalan lingkungan konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), tepatnya di Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kokurikuler lintas mata pelajaran yang melibatkan berbagai bidang studi, mulai dari IPA seperti Biologi, Kimia, dan Fisika, hingga IPS seperti Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran karakter, kepedulian lingkungan, serta kerja sama antar siswa.
Persiapan kegiatan sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya. Para guru telah memberikan gambaran kegiatan, penjelasan lokasi, hingga simulasi materi yang biasa dilakukan pada pembelajaran kokurikuler hari Selasa dan Jumat. Sosialisasi dilakukan sejak awal agar siswa memiliki gambaran mengenai lokasi tujuan, kondisi perjalanan, hingga medan yang akan ditempuh.
Pihak sekolah juga sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan pihak Balai Taman Nasional Ujung Kulon, khususnya SPTN Wilayah II yang berada di Labuan. Menariknya, kantor SPTN tersebut berada tepat berhadapan dengan SMAN 3 Pandeglang sehingga komunikasi dan koordinasi berjalan cukup baik.

Pada Kamis, 7 Mei 2026, tim survey dari sekolah yang terdiri dari Wakasek Humas, Wakasek Kurikulum, serta beberapa guru perwakilan kelompok IPA dan IPS melakukan kunjungan langsung ke lokasi untuk memastikan perizinan, menentukan titik kegiatan, serta berkonsultasi mengenai waktu pelaksanaan yang tepat.
Awalnya kegiatan direncanakan berlangsung pada 11–13 Mei 2026. Namun karena pada waktu tersebut pihak TNUK sedang menerima tamu dari mitra konservasi yang kegiatannya berlangsung beberapa hari, maka pelaksanaan disarankan untuk diundur demi kenyamanan bersama.
Setelah mempertimbangkan jarak, kondisi medan, serta waktu tempuh, akhirnya dipilihlah Pos Cilintang dan Kuta Karang sebagai lokasi utama observasi lapangan.
Sekitar dua minggu sebelum keberangkatan, siswa diminta membawa surat izin dari orang tua. Sekolah juga menegaskan bahwa kegiatan ini tidak bersifat wajib. Siswa yang tidak ikut tetap mendapatkan tugas pembelajaran yang sama di sekolah. Hal ini dilakukan karena sekolah memahami bahwa tidak semua siswa mampu melakukan perjalanan jauh dan cukup melelahkan.

Menariknya lagi, kegiatan ini tidak dipungut biaya sama sekali. Baik pihak sekolah maupun pihak TNUK tidak melakukan pungutan dalam bentuk apa pun. Sekolah hanya memfasilitasi transportasi berupa sembilan unit angkot untuk keberangkatan siswa dan guru pendamping.
Hari pertama diikuti sekitar 115 siswa. Sebelum berangkat, seluruh peserta terlebih dahulu menerima pengarahan serta berdoa bersama. Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan mulai berangkat menuju kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam angkot cukup seru. Ada yang sibuk menikmati pemandangan sawah, pantai, dan perbukitan sepanjang jalan, ada juga yang memilih tidur karena masih mengantuk. Sesekali terdengar candaan antar teman yang membuat perjalanan sekitar dua jam terasa lebih santai.
“Awalnya saya kira bakal capek dan bosan karena perjalanan jauh, ternyata seru juga,” ujar Rizky dari kelas X B sambil tertawa.
Sesampainya di kantor SPTN Wilayah II TNUK, banyak siswa langsung duduk beristirahat sambil melepas lelah sebelum memasuki aula.
Kegiatan dibuka oleh Ibu Siwi Astuti selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan observasi ini.
“Belajar itu tidak selalu di kelas. Kadang pengalaman langsung seperti ini justru lebih membekas dan memberikan pelajaran nyata tentang lingkungan,” ujarnya.

Materi pertama disampaikan oleh Bapak Aziz selaku Kepala SPTN Wilayah II. Beliau menjelaskan sejarah Taman Nasional Ujung Kulon, jenis-jenis taman nasional di Indonesia, hingga sejarah Badak Jawa bercula satu yang menjadi ikon kawasan konservasi tersebut.
Salah satu fakta menarik yang disampaikan adalah bahwa Badak Jawa atau Rhinoceros sondaicus merupakan satu-satunya spesies badak bercula satu yang tersisa di dunia dan saat ini hanya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon.

Beliau juga menjelaskan bahwa beberapa daerah yang memiliki nama “Cibadak” diduga berkaitan dengan keberadaan badak pada masa lalu, karena kata “Ci” berarti air dan menggambarkan lokasi kubangan hewan tersebut.
Materi berikutnya disampaikan oleh Bapak Herry Trisna yang menjelaskan aturan serta etika selama berada di kawasan konservasi. Siswa diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tumbuhan, tidak membuat kegaduhan di dalam hutan, serta tetap menjaga sikap selama berada di kawasan konservasi.

Menariknya, di tengah penyampaian materi, Bapak Herry beberapa kali melakukan ice breaking dan candaan ringan agar suasana aula tidak terlalu tegang. Banyak siswa yang awalnya terlihat mengantuk akhirnya kembali fokus dan tertawa bersama.

Setelah sesi materi selesai, siswa diberi kesempatan berdiskusi dan bertanya langsung mengenai konservasi, kehidupan satwa liar, hingga tantangan menjaga kelestarian hutan di Indonesia.

Menjelang siang, seluruh peserta melakukan istirahat, salat, dan makan bersama. Banyak guru pendamping terlihat menikmati bekal yang dibawa dari rumah sambil bercengkrama santai bersama siswa.
Bapak Uhen Suhendi selaku guru pendamping juga sempat berkomentar santai, “Kalau belajar langsung seperti ini biasanya siswa lebih cepat paham dibanding cuma lihat gambar di buku.”

Setelah Ishoma, rombongan kembali menaiki kendaraan menuju Pos Cilintang. Di lokasi ini siswa dibagi menjadi dua kelompok. Dua rombel mengikuti materi tentang tumbuhan pakan badak, sedangkan dua rombel lainnya menuju Kuta Karang sebelum nantinya bertukar tempat.
Di Pos Cilintang, siswa diperkenalkan dengan berbagai jenis tanaman yang menjadi sumber makanan badak seperti Bungur, Sengon, Warangan, Kiara, dan beberapa jenis lainnya. Mitra dari TNUK menjelaskan bagaimana tanaman tersebut dibibitkan sebelum nantinya ditanam di beberapa titik kawasan hutan konservasi.

Sementara itu, kelompok yang menuju Kuta Karang terlebih dahulu diberikan pengarahan mengenai aturan memasuki kawasan hutan. Siswa diminta menjaga sikap, tidak memisahkan diri dari rombongan, tidak membuat kegaduhan, serta tetap menjaga kebersihan lingkungan.

Perjalanan menuju Kuta Karang cukup menarik. Banyak siswa antusias memperhatikan suasana hutan. Bahkan pada hari pertama, salah satu kelompok beruntung melihat seekor lutung hitam yang langsung membuat siswa heboh.
“Pas lihat lutung hitam rasanya kayak yang aneh” ujar salah satu siswa sambil tertawa.

Sesampainya di Kuta Karang, suasana langsung terasa berbeda. Lokasi tersebut dikelilingi batuan karang besar menyerupai benteng alami. Di tengahnya terdapat petilasan yang dipercaya berkaitan dengan tokoh Ki Buyut Gentar Bumi.
Menurut penjelasan pemandu, kata “Kuta” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti benteng, sedangkan “karang” merujuk pada batu karang besar yang mengelilingi lokasi tersebut.

Sementara nama Ki Buyut Gentar Bumi diyakini sebagai siloka dari peristiwa dahsyat letusan Gunung Krakatau tahun 1883 yang menyebabkan tanah bergetar hebat.
“Yang paling bikin kaget itu suasana di Kuta Karang. Agak serem tapi penasaran juga karena banyak cerita sejarahnya,” ujar salah satu siswi kelas X C.

Setelah dari Kuta Karang, siswa diajak menuju wilayah muara Cilintang. Di sana siswa diperkenalkan dengan ekosistem mangrove, kerang, ikan kecil, hingga kehidupan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Pemandu juga menjelaskan bahwa wilayah tersebut merupakan habitat beberapa satwa liar, termasuk buaya muara. Namun pada hari pertama, rombongan belum menemukan bekas lintasan buaya secara langsung sehingga siswa hanya mendengarkan penjelasan mengenai habitat satwa tersebut.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri pantai kawasan konservasi. Banyak siswa memanfaatkan momen ini untuk berfoto bersama teman dan guru karena pemandangan pantainya sangat indah dan masih alami.

Menjelang sore, seluruh rombongan kembali ke Pos Cilintang sebelum akhirnya pulang menuju Pandeglang. Di perjalanan pulang, banyak siswa memilih beristirahat sambil menikmati suasana sore, sementara beberapa lainnya berhenti untuk melaksanakan salat Ashar.
Hari pertama kegiatan observasi ini memberikan pengalaman yang tidak terlupakan bagi siswa. Selain belajar langsung tentang lingkungan konservasi, siswa juga mendapatkan pengalaman baru tentang pentingnya menjaga alam dan memahami kekayaan hayati Indonesia.

Artikel Terkait
Perpisahan yang Hangat di Bawah Langit Cerah : Pelepasan Kelas XII angkatan 42 tahun 2026
Rabu, 06 Mei 2026
USP 2026 Berbasis Digital di SMAN 3 Pandeglang : Ujian Akhir dari Awal Perjalanan Baru
Sabtu, 11 April 2026




