You need to enable javaScript to run this app.

Belajar dari Alam, Bijak dalam Pergaulan: Hari Ketiga MPLS SMAN 3 Pandeglang Penuh Makna

  • Rabu, 15 Juli 2026
  • Dokumentasi
  • Administrator
  • 0 komentar
Belajar dari Alam, Bijak dalam Pergaulan: Hari Ketiga MPLS SMAN 3 Pandeglang Penuh Makna

Labuan, 15 Juli 2026 – Memasuki hari ketiga pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027, peserta didik baru SMA Negeri 3 Pandeglang kembali mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat kesadaran sebagai generasi muda yang peduli terhadap lingkungan serta mampu menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif.

Seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan diawali dengan sarapan bersama melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kelas masing-masing. Suasana pagi terasa hangat ketika para siswa menikmati sarapan bersama teman sekelas, Sambil menikmati hidangan yang telah disediakan, terdengar berbagai obrolan ringan yang membuat suasana kelas semakin akrab. Momen sederhana ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan yang terus dibangun selama kegiatan MPLS berlangsung.

Setelah selesai sarapan, seluruh peserta didik kelas X diarahkan menuju ruangan yang telah ditentukan oleh panitia. Mengingat jumlah peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 mencapai lebih dari 400 siswa, panitia membagi peserta ke beberapa lokasi agar kegiatan dapat berlangsung lebih nyaman, tertib, dan kondusif. Ruangan yang digunakan antara lain Masjid SMAN 3 Pandeglang, Laboratorium Kimia, dan Ruang Vokasional. Pembagian ini juga memudahkan peserta untuk mengikuti materi dengan lebih fokus dan berinteraksi langsung dengan para narasumber.

Materi pertama menghadirkan narasumber dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon, yaitu Bapak Muhiban. Dalam penyampaiannya, beliau mengenalkan lebih dekat mengenai pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon, kawasan konservasi yang menjadi kebanggaan Kabupaten Pandeglang sekaligus telah diakui sebagai salah satu warisan dunia.

Beliau menjelaskan bahwa Taman Nasional Ujung Kulon merupakan habitat alami Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), salah satu satwa paling langka di dunia yang kini populasinya hanya tersisa di kawasan tersebut. Namun, kekayaan Ujung Kulon tidak berhenti pada badak saja. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa lain seperti banteng jawa, rusa, lutung, owa jawa, aneka burung, reptil, serta ribuan jenis tumbuhan khas hutan hujan tropis yang memiliki nilai penting bagi keseimbangan ekosistem.

Selain memperkenalkan keragaman hayati, Bapak Muhiban juga menjelaskan pentingnya menjaga kawasan konservasi sebagai sumber kehidupan. Menurut beliau, melestarikan alam bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau petugas taman nasional, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk generasi muda. Beliau mengajak peserta didik untuk mulai mencintai lingkungan melalui kebiasaan sederhana, seperti menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta ikut menjaga kelestarian flora dan fauna di sekitar tempat tinggal masing-masing.

Penyampaian materi yang diselingi cerita dan pengalaman di lapangan membuat para peserta didik terlihat antusias. Banyak di antara mereka yang baru mengetahui bahwa kawasan konservasi yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka ternyata memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa dan menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.

Salah seorang peserta didik kelas X mengungkapkan kesannya setelah mengikuti materi tersebut.

"Abdi kakarak terang, ternyata Ujung Kulon téh lain ukur tempat aya badak wungkul, tapi loba pisan sasatoan anu kudu dijaga."

(Saya baru tahu, ternyata Ujung Kulon bukan hanya tempat hidup badak saja, tetapi juga memiliki banyak sekali satwa yang harus dijaga.)

Komentar sederhana tersebut menggambarkan tumbuhnya rasa bangga sekaligus kepedulian peserta didik baru terhadap kekayaan alam yang dimiliki daerahnya.

Setelah seluruh rangkaian materi dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon selesai, peserta didik yang berada di Ruang Vokasional kemudian diarahkan menuju Lapangan Basket SMAN 3 Pandeglang untuk mengikuti sesi berikutnya bersama Polsek Labuan. Perpindahan lokasi berlangsung dengan tertib di bawah arahan panitia MPLS dan guru pendamping.

Pada sesi berikutnya, peserta didik mendapatkan materi edukasi mengenai pencegahan kekerasan, intoleransi, radikalisme, penyalahgunaan narkotika, tawuran, balapan liar, dan perundungan (bullying). Materi disampaikan oleh Bapak Jayana, yang mewakili Polsek Labuan.

Dalam penyampaiannya, Bapak Jayana mengingatkan bahwa masa remaja merupakan masa ketika seseorang sedang mencari jati diri. Pada usia tersebut, rasa ingin tahu yang tinggi sering kali membuat remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Oleh karena itu, setiap pelajar harus mampu memilih lingkungan pergaulan yang positif agar tidak mudah terbawa pada perilaku yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Beliau menjelaskan bahwa banyak permasalahan yang dialami remaja berawal dari hal-hal yang terlihat sederhana. Misalnya, mengikuti ajakan teman tanpa berpikir panjang, ingin dianggap hebat oleh kelompok, atau sekadar ingin mencoba sesuatu yang sedang dianggap tren. Jika tidak memiliki pendirian yang kuat, seorang pelajar dapat dengan mudah terjerumus ke dalam perilaku yang menyimpang.

Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah penyalahgunaan narkotika. Menurut beliau, narkotika sering kali masuk ke lingkungan remaja melalui pergaulan. Awalnya seseorang hanya diajak berkumpul bersama teman-temannya, kemudian ditawari untuk mencoba dengan berbagai alasan, seperti "cuma sekali saja," "biar dianggap kompak," atau "supaya tidak dibilang penakut." Dari rasa penasaran dan keinginan untuk diterima dalam kelompok, seseorang dapat terjerumus pada penyalahgunaan obat-obatan terlarang tanpa menyadari dampak buruk yang akan dihadapi.

Beliau menegaskan bahwa narkotika bukan hanya merusak kesehatan, tetapi juga dapat menghilangkan semangat belajar, menurunkan prestasi, merusak hubungan dengan keluarga, bahkan membawa seseorang berhadapan dengan proses hukum. Karena itu, setiap peserta didik harus memiliki keberanian untuk mengatakan "tidak" terhadap segala bentuk ajakan yang mengarah pada penyalahgunaan narkotika serta berani memilih lingkungan pertemanan yang memberikan pengaruh positif.

 

Tidak kalah penting, beliau juga memberikan perhatian khusus terhadap perundungan (bullying) yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah maupun media sosial. Perundungan tidak selalu berupa tindakan fisik, tetapi juga dapat berupa ejekan, hinaan, pengucilan, ancaman, hingga penyebaran komentar yang menyakitkan melalui media sosial. Dampaknya dapat membuat korban kehilangan rasa percaya diri, merasa takut datang ke sekolah, bahkan mengganggu kesehatan mentalnya.

Bapak Jayana mengajak seluruh peserta didik untuk menjadi teman yang peduli. Apabila melihat atau mengetahui ada teman yang menjadi korban perundungan, kekerasan, atau mendapatkan ancaman, jangan memilih diam dan jangan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Berikan dukungan kepada korban, temani mereka, dan segera laporkan kepada guru, wali kelas, guru BK, atau pihak sekolah agar dapat segera ditangani. Menurut beliau, keberanian bukan hanya ditunjukkan dengan membela diri sendiri, tetapi juga dengan berani membantu teman yang membutuhkan pertolongan. Dengan saling menjaga dan saling mengingatkan, lingkungan sekolah akan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar.

Di akhir penyampaiannya, Bapak Jayana mengajak seluruh peserta didik baru untuk memanfaatkan masa SMA sebagai kesempatan mengembangkan potensi diri, memperbanyak prestasi, membangun pertemanan yang sehat, serta menjauhi segala bentuk perilaku yang dapat merusak masa depan. Beliau menegaskan bahwa pelajar yang hebat bukanlah mereka yang berani mencoba hal-hal negatif, melainkan mereka yang mampu menjaga prinsip, menghargai diri sendiri, menghormati orang lain, dan berani mengambil keputusan yang benar meskipun harus berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, para pendamping juga senantiasa hadir mendampingi peserta didik di setiap lokasi kegiatan. Mereka membantu mengatur jalannya acara, memastikan seluruh peserta mengikuti materi dengan tertib, sekaligus memberikan arahan apabila ada peserta didik yang membutuhkan bantuan. Kehadiran para guru membuat suasana kegiatan terasa lebih nyaman dan memberikan rasa aman bagi peserta didik baru yang masih dalam proses beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Hari ketiga MPLS menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi peserta didik baru SMAN 3 Pandeglang. Dalam satu hari, mereka memperoleh dua pembelajaran penting, yaitu mengenal dan mencintai kekayaan alam Indonesia melalui materi dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon, serta belajar menjaga diri, memilih pergaulan yang sehat, dan membangun karakter yang baik melalui edukasi dari Polsek Labuan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta didik tidak hanya menjadi siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, berani menolak pengaruh negatif, menghargai perbedaan, serta saling menjaga satu sama lain. Karena di SMAN 3 Pandeglang, pendidikan bukan hanya tentang belajar di dalam kelas, tetapi juga tentang membentuk karakter, memperluas wawasan, dan menyiapkan generasi muda yang siap menjadi kebanggaan keluarga, sekolah, dan bangsa.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Aan Qonaah S.Pd,.M.Pd

- Kepala Sekolah -

...

Tautan
Banner