You need to enable javaScript to run this app.

Asah Jiwa Leadership, OSIS/MPK SMAN 3 Pandeglang Menempa Karakter Lewat LDKS

  • Sabtu, 19 September 2026
  • Administrator
  • 0 komentar
Asah Jiwa Leadership, OSIS/MPK SMAN 3 Pandeglang Menempa Karakter Lewat LDKS

Lima Hari Belajar Memimpin, Bertumbuh, dan Berjalan Bersama

Menjadi pemimpin ternyata tidak sesederhana berdiri di depan lalu memberikan arahan. Di balik sebuah keputusan, ada tanggung jawab. Di balik sebuah kegiatan, ada kerja sama. Dan di balik sebuah organisasi, ada banyak orang yang harus belajar untuk berjalan ke arah yang sama.

Hal itulah yang coba dirasakan para siswa dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) SMAN 3 Pandeglang yang berlangsung selama lima hari, mulai 15 hingga 19 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal lebih dekat dunia organisasi, belajar memimpin, berdiskusi, mengambil keputusan, sekaligus membangun kekompakan bersama.

Kegiatan utama dilaksanakan di Aula SMPN 2 Labuan, sedangkan rangkaian kegiatan luar ruangan dilaksanakan di kawasan TAHURA Banten, Carita. Selama lima hari tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi di dalam ruangan, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan yang menuntut keberanian, tanggung jawab, dan kerja sama.

Selasa, 15 September 2026, menjadi langkah pertama perjalanan LDKS. Sejak pagi, peserta mulai berdatangan untuk melakukan check-in. Setelah pembukaan oleh Bapak Yafid Mutaqin Selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang kurikulum, kegiatan dilanjutkan dengan materi Kepemimpinan dalam Berorganisasi yang disampaikan oleh Kepala Sekolah bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum.

Dari materi tersebut, peserta mulai diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang siapa yang menjadi ketua. Seorang pemimpin juga harus mampu mendengarkan, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah diputuskan bersama.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan materi Manajemen Pelaksanaan Kegiatan bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Ibu Sri Rahmawati. Menurutnya, kegiatan LDKS menjadi salah satu proses penting untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menjalankan organisasi.

“LDKS ini diharapkan bisa menjadi bekal bagi siswa untuk lebih memahami tanggung jawab dalam berorganisasi. Mereka belajar bagaimana berkomunikasi, bekerja sama, menyusun kegiatan, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan bersama. Harapannya, apa yang didapat di sini bisa diterapkan ketika mereka kembali menjalankan organisasi di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.”

Setelah itu, peserta mendapatkan materi mengenai Kedudukan MPK dan OSIS bersama Pembina MPK/OSIS. Menjelang sore, kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan program kerja sekbid dan ekstrakurikuler bersama para pembina ekstrakurikuler.

Dari sini, peserta mulai berhadapan dengan hal-hal yang selama ini mungkin terlihat sederhana. Sebuah kegiatan ternyata tidak cukup hanya dengan ide. Ada perencanaan, pembagian tugas, komunikasi, dan tentu saja orang-orang yang mau bekerja sampai rencana tersebut benar-benar terlaksana.

Memasuki Rabu, 16 September 2026, suasana kegiatan mulai terasa lebih serius. Peserta mengikuti Sidang Pleno I yang membahas pengesahan agenda acara, tata tertib, pemilihan presidium, serta penetapan Komisi 1, Komisi 2, dan Komisi 3.

Setelah itu, peserta masuk ke sidang komisi. Komisi 1 membahas AD/ART, Komisi 2 membahas KPO, sedangkan Komisi 3 membahas program kerja. Forum mulai dipenuhi berbagai pendapat dan gagasan. Ada yang menyampaikan pandangan, ada yang memberikan tanggapan, dan ada pula yang harus belajar menerima ketika pendapatnya belum menjadi keputusan bersama.

Justru di situlah salah satu pelajaran penting dari LDKS terasa. Organisasi bukan tempat untuk selalu memenangkan pendapat sendiri. Ada kalanya kita harus berbicara, tetapi ada kalanya kita juga harus belajar mendengarkan.

Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, BAWASLU Pandeglang hadir memberikan materi mengenai Pemilihan Umum. Kehadiran BAWASLU memberikan warna tersendiri dalam kegiatan LDKS, terutama karena peserta tidak hanya belajar tentang organisasi sekolah, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai bagaimana proses pemilihan dan demokrasi dijalankan sesuai aturan.

Materi tersebut menjadi semakin relevan karena peserta sedang berada dalam proses menuju pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS. Dari sini, mereka bisa melihat bahwa sebuah pemilihan bukan hanya soal memilih siapa yang akan menjadi pemimpin, tetapi juga tentang proses, aturan, tanggung jawab, dan sikap dalam menghargai pilihan orang lain.

Siang harinya, peserta kembali berkumpul dalam Sidang Pleno II untuk membahas pengesahan AD/ART OSIS, LPJ OSIS periode 2025/2026, serta program kerja OSIS periode 2026/2027.

Hari berikutnya, Kamis, 17 September 2026, peserta mulai memasuki tahapan yang berkaitan dengan proses pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS. Kegiatan diawali dengan pendaftaran bakal calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS,

Materi tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai pentingnya memahami aturan dan proses dalam sebuah pemilihan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pleno penetapan calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS serta Sidang Pleno LPJ OSIS.

Bagi peserta, rangkaian kegiatan selama tiga hari pertama menjadi pengalaman yang cukup padat. Salah satu siswa bahkan mengaku bahwa bayangannya tentang LDKS sebelum kegiatan ternyata cukup berbeda dengan kenyataan.

“Awalnya saya kira LDKS bakal lebih banyak duduk dan dengerin materi. Ternyata cukup padat juga. Ada sidang, penyusunan program kerja, terus kegiatan outdoor. Capek, tapi seru karena jadi tahu kalau menjalankan organisasi itu ternyata nggak gampang dan nggak bisa sendirian.”

Setelah tiga hari berada dalam suasana aula dan forum diskusi, Jumat, 18 September 2026 menjadi waktu bagi peserta untuk merasakan suasana yang berbeda. Pagi hari, rombongan bergerak menuju TAHURA Banten, Carita untuk mengikuti kegiatan outdoor.

Sesampainya di lokasi, peserta melakukan ISHOMA sebelum mulai mendirikan tenda. Suasana yang sebelumnya dipenuhi meja, kursi, dan forum diskusi berubah menjadi lebih terbuka. Peserta mulai sibuk bersama kelompok masing-masing. Ada yang membawa perlengkapan, mendirikan tenda, dan saling membantu agar tempat tinggal sementara mereka bisa segera selesai.

Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih santai melalui kegiatan Api Unggun dan kreasi seni. Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan yang cukup padat, peserta akhirnya memiliki ruang untuk tertawa, bersorak, dan menikmati penampilan dari teman-temannya.

Tidak ada lagi suasana sidang yang penuh pembahasan. Yang tersisa malam itu adalah kebersamaan. Momen sederhana, tetapi justru menjadi bagian yang membuat hubungan antarpeserta terasa semakin dekat.

Sabtu, 19 September 2026 menjadi hari terakhir sekaligus penutup rangkaian LDKS. Pagi hari dimulai dengan materi bina fisik dan mental bersama TNI AD. Kegiatan ini menjadi salah satu bagian yang menguji kedisiplinan dan ketahanan peserta.

Setelah itu, peserta mengikuti hiking bersama panitia di kawasan TAHURA. Langkah mereka mulai membawa cerita masing-masing. Ada yang berjalan lebih cepat, ada yang mulai kelelahan, ada yang saling menunggu, dan ada pula yang membantu temannya agar tetap bisa melanjutkan perjalanan.

Mungkin dari sana peserta kembali menemukan arti sederhana dari sebuah kepemimpinan. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi tentang siapa yang bersedia menoleh ketika ada temannya yang tertinggal.

Sekitar pukul 13.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Sayonara. Lima hari yang sebelumnya terasa panjang akhirnya sampai pada penghujungnya.

Bagi Bapak Didi Haryadi selaku Pembina OSIS, pengalaman yang didapat siswa selama LDKS diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya untuk membentuk pengurus organisasi yang mampu menjalankan program kerja, tetapi juga membangun sikap dan karakter siswa.

“Harapannya, anak-anak tidak hanya menjadi pengurus yang bisa menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan bisa menjadi contoh yang baik bagi teman-temannya. Apa yang mereka dapat selama LDKS jangan berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi bisa diterapkan dalam menjalankan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari.”

Pada akhirnya, LDKS bukan hanya tentang materi kepemimpinan, sidang, program kerja, ataupun kegiatan outdoor. Ada tujuan yang lebih besar, yaitu memberikan bekal kepada siswa agar memiliki kemampuan memimpin, berkomunikasi, bekerja sama, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan dengan lebih matang.

Lima hari ini mungkin hanya menjadi satu bagian kecil dari perjalanan mereka sebagai siswa. Namun dari aula di SMPN 2 Labuan hingga langkah-langkah panjang di TAHURA Carita, ada banyak hal yang bisa dibawa pulang.

Bukan hanya sertifikat atau pengalaman mengikuti kegiatan.

Tetapi keberanian untuk berbicara. Kesediaan untuk mendengar. Kemampuan untuk bekerja bersama. Dan kesadaran bahwa dalam sebuah perjalanan, tidak selalu tentang siapa yang sampai lebih dulu.

Karena terkadang, menjadi pemimpin justru berarti memastikan semua orang bisa sampai bersama.

Lima hari telah selesai. Tenda telah dibongkar, aula kembali sunyi, dan para peserta kembali ke rumah masing-masing. Namun semoga semangat yang tumbuh selama lima hari itu tidak ikut pulang dan hilang begitu saja. Sebab pemimpin tidak lahir hanya dari sebuah kegiatan. Pemimpin tumbuh dari pengalaman, dari kesalahan, dari keberanian mencoba, dan dari kemauan untuk terus berjalan bersama orang lain.

 

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Aan Qonaah S.Pd,.M.Pd

- Kepala Sekolah -

...

Tautan
Banner