You need to enable javaScript to run this app.

Belajar Memimpin, Belajar Mendengar: Komunikasi sebagai Kunci dalam Berorganisasi

  • Kamis, 24 September 2026
  • KOKURIKULER
  • Administrator
  • 0 komentar
Belajar Memimpin, Belajar Mendengar: Komunikasi sebagai Kunci dalam Berorganisasi

Memasuki hari keempat kegiatan kokurikuler SMAN 3 Pandeglang, Kamis, 24 September 2026, suasana kembali ramai di lingkungan sekolah. Setelah siswa kelas X dan XI menyelesaikan sarapan bersama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), kegiatan dilanjutkan di lapangan basket yang berada tepat di depan panggung Sasana Krida bersama dewan guru sebagai pendamping.

Hari itu, siswa tidak hanya diajak untuk memahami organisasi dari sisi teori. Mereka diajak mendengar langsung pengalaman orang-orang yang sudah lebih dulu terjun dalam kehidupan organisasi, bekerja bersama masyarakat, menghadapi berbagai persoalan, dan belajar bagaimana sebuah komunikasi dapat menentukan arah sebuah kelompok.

Mengangkat tema “Komunikasi Menggerakkan Organisasi”, kegiatan kali ini membawa beberapa pembahasan yang cukup dekat dengan kehidupan siswa. Mulai dari komunikasi yang membuka jalan menuju kesuksesan melalui organisasi, kepemimpinan yang dimulai dari komunikasi, manfaat mengikuti organisasi, tantangan dalam berorganisasi, cara menyampaikan ide, hingga bagaimana pengalaman berorganisasi dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia nyata dan dunia kerja.

Narasumber pertama adalah Bapak Sofyan Hadi, Kepala Desa Wilayah Teluk sekaligus salah satu alumni SMAN 3 Pandeglang yang pada masa beliau bersekolah masih bernama SMAN 1 Labuan.

Kehadiran beliau terasa cukup berbeda bagi siswa. Selain membagikan pengalaman mengenai organisasi, Pak Sofyan juga sempat membawa siswa melihat kembali wajah sekolah pada masa lalu. Ia bercerita bahwa lingkungan sekolah dahulu masih dipenuhi banyak pohon cikirai. Di beberapa bagian, bahkan masih terdapat semak belukar yang membuat suasana sekolah sangat berbeda dengan kondisi sekarang.

Cerita tersebut menjadi semacam jembatan antara masa lalu dan masa kini. Sekolah yang dulu menjadi tempat beliau menuntut ilmu kini telah berkembang, begitu pula para siswanya yang suatu hari nanti akan meninggalkan sekolah dan menghadapi lingkungan yang jauh lebih luas.

Dalam pembahasannya, Pak Sofyan menekankan bahwa organisasi bukan sekadar tempat untuk berkumpul atau menjalankan sebuah kegiatan. Organisasi merupakan ruang untuk belajar bertanggung jawab, bekerja sama, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, sekaligus belajar menghadapi masalah.

Ketika berada dalam sebuah organisasi, tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan keinginan masing-masing orang. Akan ada perbedaan pendapat, kepentingan, karakter, bahkan cara berpikir. Di situlah kemampuan berkomunikasi menjadi penting.

Sebuah ide yang bagus belum tentu dapat diterima jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat. Begitu pula sebuah masalah tidak akan selesai hanya dengan saling menyalahkan. Dibutuhkan komunikasi yang terbuka, sikap mau mendengarkan, serta kemampuan untuk mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

Pembahasan kemudian berkembang pada bagaimana siswa dapat menghadapi konflik di dalam organisasi. Salah satu pertanyaan yang muncul dari siswa adalah bagaimana cara menghadapi perdebatan ketika terjadi perbedaan pandangan antara pihak yang pro dan kontra terhadap suatu persoalan.

Pertanyaan lainnya juga cukup dekat dengan pengalaman siswa dalam berorganisasi, yaitu bagaimana seharusnya bersikap ketika mulai merasa jenuh melihat organisasi yang sedang berjalan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sesi diskusi terasa lebih hidup. Sebab, persoalan dalam organisasi ternyata bukan hanya tentang bagaimana memulai sebuah kegiatan, tetapi juga bagaimana mempertahankannya ketika muncul perbedaan, masalah, rasa lelah, dan kejenuhan.

Dari pengalaman yang dibagikan, siswa diajak memahami bahwa menjadi bagian dari organisasi berarti siap untuk tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Ada kalanya seseorang harus menjadi pendengar, ada saatnya menyampaikan pendapat, dan ada pula waktunya menerima keputusan bersama meskipun berbeda dengan pendapat pribadi.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengalaman tersebut nantinya dapat berhubungan dengan kehidupan setelah sekolah. Kemampuan berbicara, menyampaikan ide, bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab terhadap tugas, dan beradaptasi dengan orang lain merupakan kemampuan yang akan terus digunakan, baik dalam pendidikan maupun ketika memasuki dunia kerja.

Setelah sesi bersama Pak Sofyan Hadi, kegiatan dilanjutkan dengan materi dari Ibu Heni Suhartini, guru Fisika sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana SMAN 3 Pandeglang. Menariknya, Ibu Heni juga merupakan salah satu alumni sekolah ini, yang pada masa beliau menempuh pendidikan masih bernama SMAN 1 Labuan.

Posisi Ibu Heni sebagai alumni sekaligus pendidik di sekolah yang sama memberikan warna tersendiri dalam sesi berikutnya. Jika Pak Sofyan membawa siswa melihat pengalaman dari sudut pandang alumni yang kini mengabdi di tengah masyarakat, Ibu Heni hadir membawa pengalaman dari seseorang yang pernah duduk sebagai siswa di sekolah ini dan kini kembali menjadi bagian dari keluarga besar sekolah sebagai guru.

Ibu Heni berbagi pengalaman mengenai bagaimana berkomunikasi dengan orang lain dalam berbagai situasi, khususnya ketika berada di dalam sebuah organisasi. Beliau menjelaskan bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang bagaimana memahami lawan bicara, memilih kata yang tepat, mendengarkan, dan melihat situasi sebelum menyampaikan sesuatu.

Hal sederhana seperti cara menyampaikan kritik pun dapat memberikan hasil yang berbeda. Kritik yang disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain dapat menimbulkan konflik, sementara kritik yang disampaikan dengan cara yang baik justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk membuat organisasi menjadi lebih baik.

Bagi siswa, materi tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan komunikasi ternyata tidak berhenti pada kegiatan berbicara di depan kelas. Komunikasi juga hadir ketika bekerja dalam kelompok, berdiskusi, menyampaikan pendapat kepada guru, menyelesaikan perbedaan dengan teman, bahkan ketika kelak berada di lingkungan pekerjaan.

Salah seorang siswa mengaku mendapatkan sudut pandang baru setelah mengikuti sesi tersebut.

“Ternyata organisasi bukan cuma soal ikut kegiatan atau punya jabatan. Kita juga harus bisa berkomunikasi dan menyelesaikan masalah. Kadang kita merasa pendapat kita paling benar, padahal dalam organisasi kita juga harus belajar mendengarkan orang lain.”

Siswa lainnya mengatakan bahwa cerita dari Pak Sofyan membuat dirinya melihat organisasi dengan cara yang berbeda.

“Yang paling menarik ketika Pak Sofyan cerita tentang sekolah zaman dulu. Dari situ saya jadi kepikiran kalau sekolah ini terus berkembang dan kita juga harus punya sesuatu yang bisa dibawa setelah lulus. Salah satunya pengalaman dari organisasi.”

Ada pula siswa yang merasa pembahasan mengenai kejenuhan dalam organisasi cukup dekat dengan pengalaman mereka.

“Kadang kalau sudah capek, kita memang bisa merasa jenuh dan berpikir untuk berhenti. Dari materi tadi saya jadi paham bahwa rasa jenuh itu bukan berarti semuanya harus ditinggalkan, tapi kita perlu melihat lagi masalahnya dan mencari cara supaya bisa berjalan bersama.”

Kegiatan hari keempat tersebut akhirnya berlangsung hingga sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah rangkaian materi dan diskusi selesai, siswa kemudian diberikan waktu untuk beristirahat.

Dari lapangan basket di depan Sasana Krida, hari itu siswa membawa pulang sesuatu yang mungkin tidak terlihat secara langsung: cara melihat organisasi dengan sudut pandang yang lebih luas.

Sebab, organisasi bukan hanya tentang siapa yang menjadi ketua dan siapa yang menjadi anggota. Bukan pula sekadar tentang program kerja yang selesai dilaksanakan. Di dalamnya ada proses belajar memahami orang lain, mengelola perbedaan, menyampaikan gagasan, menerima kritik, bertanggung jawab, dan tetap berjalan ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.

Pada akhirnya, komunikasi menjadi salah satu pintu penting dalam organisasi. Dari komunikasi, sebuah ide dapat menemukan jalan. Dari komunikasi, perbedaan dapat dibicarakan. Dan dari komunikasi pula, seorang pemimpin belajar bahwa memimpin bukan hanya tentang memberi arahan, tetapi juga tentang mau mendengar.

Hari keempat kokurikuler pun menjadi salah satu bagian dari perjalanan siswa SMAN 3 Pandeglang untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia nyata. Karena ketika nanti seragam sekolah dilepas dan kehidupan membawa mereka ke tempat yang lebih luas, kemampuan untuk berbicara, mendengar, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah akan menjadi bekal yang tidak kalah penting dari apa yang dipelajari di dalam kelas.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Aan Qonaah S.Pd,.M.Pd

- Kepala Sekolah -

...

Tautan
Banner